18. AR ROZZAQ (Dzat Yang Maha Memberi Rizki) Allah Ta’ala akan memberi rizki kepada hamba-hambaNya apabila hamba-Nya sudah siap didalam menerima rizki tersebut. Didalam kehidupan kita sehari-hari terkadang ada rizki yang kita terima tanpa kita mohonkan, tetapi ada juga rizki yang kita mohonkan tetapi tidak diberi. Disinilah letaknya bahwa Allah itu adalah Dzat Yang Maha Memberi Rizki. Jadi yang diberikan itu adalah rizki-rizki apabila seorang hamba sudah sanggup dalam menerimanya walau tanpa dimohonkan. Setiap kita pernah merasakan memohon rizki kepada Allah seolah-olah tidak terkabul, tetapi setelah kita pasrahkan bahkan terkadang kita sudah lupa bahwa kita pernah bermohon, barulah rizki tersebut kita terima. Disini menunjukkan bahwa Allah mengetahui kesiapan hamba-hambaNya dalam menerima rizki. Ini adalah bukti kasih sayang Allah, karena apabila manusia dilebihkan rizkinya maka akan melampaui batas. Sesuai surat Asy Syuura (42) : 27 27. Dan jikalau Allah melapangkan rezki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat. Setelah kita memahami Ar Rozzaq-Nya Allah Ta’ala, sebenarnya tidak ada gunanya kita memohon rizki. Karena Allah Ta’ala pasti akan memberikan rizki kepada hamba-hambaNya apabila dinilai sudah siap untuk menerimanya walau tanpa dimohonkan. Dan Allah Ta’ala tidak akan memberikan rizki kepada hambaNya apabila dinilai belum siap untuk menerimanya walaupun sudah dimohonkan. Akan tetapi hal ini hanya berlaku bagi orang-orang yang beriman dan tidak berlaku bagi orang-orang kafir. Karena bagi orang-orang kafir, mereka akan diberikan kesenangan-kesenangan hidup didunia, tetapi diakhirat mereka tidak akan mendapatkan apa-apa kecuali neraka. Apabila kita belum bisa meyakini dan merasakan sifat Ar Rozzaq-Nya Allah ini, maka mengakibatkan sering kali kita tidak terima apabila diberi rizki sedikit oleh Allah dan selalu meminta rizki lebih karena ingin mendapat penilaian dan sanjungan dari manusia. Padahal yang paling penting dan membawa kepada keselamatan akhirat adalah sanjungan dan pujian dari Allah. Oleh sebab itu dalam masalah dunia lihatlah orang-orang yang dibawah kita, sehingga kita bisa menjadi orang yang pandai bersyukur. Sedangkan masalah akhirat lihatlah orang-orang yang diatas kita, agar kita terdorong untuk selalu menambah dan memperbanyak bekal untuk kehidupan akhirat. Banyak sekali orang-orang yang menganggap bahwa kaya itu enak. Padahal sebetulnya semakin banyak harta yang ia miliki, maka semakin berat hisabnya (pertanggung jawabannya) dihadapan Allah Ta’ala. Ada dua pemahaman tentang rizki. Yaitu menurut Allah Ta’ala dan menurut manusia. 1. Yang dinamakan rizki menurut manusia adalah : “Harta, ilmu, tenaga dan kekuasaan”. 2. Yang dinamakan rizki menurut Allah adalah : “Segala sesuatu yang diberikan oleh Allah Ta’ala yang kita gunakan untuk kepentingan Akhirat”. Karena tujuan Allah Ta’ala memberikan segala sesuatu kepada kita adalah untuk menambah amal, bukan untuk kepuasan hawa nafsu. Oleh sebab itu apabila pemberian-pemberian Allah Ta’ala kita pakai untuk memperturutkan hawa nafsu (tidak sesuai dengan aturan-aturan Allah Ta’ala dan Rasul-Nya) maka pemberian-pemberian Allah Ta'ala itu tidak menjadi rezeki tetapi justru menjadi balak. Selama ini kita memahami bahwa apapun yang diberikan Allah kepada kita adalah rizki. Padahal andaikata pemberian-pemberian Allah tersebut kita gunakan untuk kepuasaan hawa nafsu (mendurhakai Allah) maka akan menjadi balak nanti diakhirat. Oleh sebab itu apapun yang diberikan Allah kepada kita hendaknya kita gunakan untuk melakukan ketaqwaan kepadaNya. Apabila kita diberi harta hendaknya kita nafkahkan dijalan Allah sehingga menjadi rizki nanti dikhirat. Apabila diberi tenaga hendaknya kita gunakan untuk berjihad sehingga bisa menjadi rizki diakhirat. Apabila diberi kekuasaan hendaknya kita pakai untuk Amar Ma’ruf Nahi Munkar. Begitu juga dengan ilmu dan lain sebagainya. Sebetulnya masalah rizki tidak perlu diminta, karena hanya Allah Ta’ala yang tahu seberapa besar kemampuan hamba-Nya dalam menerimanya. Dan rizki setiap hamba juga telah ditentukan oleh Allah Ta'ala. Oleh sebab itu ikhtiyar (upaya) manusia tidak ada hubungannya dengan hasil (rizki) yang diperoleh. Karena ikhtiyar akan mendapatkan amal sedangkan hasil yang diberikan Allah Ta'ala adalah sesuai dengan ketentuan yang telah Dia tetapkan. Andaikata ikhtiyar ada hubungannya dengan hasil, maka setiap orang yang bekerja pasti mendapatkan hasil. Akan tetapi kenyataannya banyak sekali orang yang bekerja tidak mendapatkan hasil apa-apa, dan banyak sekali orang yang berdagang tidak mendapatkan untuk melainkan rugi. Hal ini membuktikan bahwa ikhtiyar (upaya) tidak ada hubungannya dengan hasil. Memang antara ikhtiyar dengan hasil tidak ada hubungan, akan tetapi kita harus tetap berikhtiyar. Karena dengan ikhtiyar itulah Allah Ta'ala akan memberikan amal kepada kita. Bahkan semakin banyak dan berat ikhtiyar yang kita lakukan, maka semakin besar pula amal yang diberikan Allah Ta'ala. Yang penting niat kita harus benar karena Allah Ta'ala, dan apabila mendapat hasil niat kita untuk mencukupi kebutuhan keluarga dan selebihnya akan kita nafkahkan dijalan Allah Ta'ala. Ikhtiyar atau usaha manusia ada dua macam : 1. Berdasarkan ketaqwaan : Yaitu berikhtiyar dengan niat yang benar untuk mendapatkan amal dan dilakukan dengan syareat yang benar yang telah ditentukan oleh Allah Ta'ala dan RasulNya. 2. Berdasarkan kefasikan : Yaitu berikhtiyar dengan niat untuk mendapatkan hasil yang banyak dan untuk memenuhi kebutuhan hawa nafsu. Sehingga menghalalkan segala cara demi mendapatkan hasil yang dia inginkan. Padahal walaupun dia berusaha mati-matian, jika Allah Ta'ala tidak berkehendak, maka dia tidak akan mendapatkan hasil yang dia inginkan. Pemahaman tentang rizki menurut Allah Ta’ala dengan pemahaman menurut manusia sungguh berbeda. Yang dinamakan rizki menurut Allah Ta’ala adalah : “Segala sesuatu yang bisa membawa amal diakhirat kelak”. Apabila segala pemberian Allah Ta’ala tidak bisa menjadi amal diakhirat kelak, maka itu bukan rizki melainkan balak. Apabila kita bisa amanah dalam menerima karunia Allah Ta’ala, maka Allah Ta’ala akan menambah pemberiannya kepada kita. Oleh sebab itu yang perlu kita siapkan adalah diri kita agar bisa amanah dalam menerima karunia Allah Ta’ala. Kebanyakan manusia tidak bisa hidup dengan keadaan normal (standar), sehingga apabila pemberian Allah Ta’ala ditambah, maka akan bertambah pula standar kehidupannya. Padahal tujuan Allah Ta’ala menambah karunia kepadanya agar bertambah pula amalnya sehingga bisa menjadi rizki diakhirat kelak. Sebagai contohnya selama ini kehidupannya cukup dengan berkendaraan motor. Akan tetapi setelah ditambah rizkinya oleh Allah Ta'ala, bertambah pula standar kehidupannya ingin mempunyai mobil. Padahal tujuan Allah Ta'ala menambah rizkinya agar bertambah amalnya sebagai bekal diakhirat kelak, bukan untuk memenuhi kebutuhan hawa nafsunya. Rasulullah SAW bersabda : “Kekayaan itu letaknya dihati bukan dimateri”. Walaupun seseorang memiliki harta yang banyak, tetapi keinginanya tinggi sehingga hartanya tidak mencukupi, maka dia adalah orang miskin. Akan tetapi walaupun hartanya sedikit tetapi dia pandai bersyukur dan tidak mempunyai keinginan yang tinggi sehingga semua apa yang diinginkan bisa terpenuhi, maka dia adalah orang kaya. Didalam hidup ini banyak sekali orang yang menginginkan ketenangan. Sehingga dia mengumpulkan harta yang banyak, ilmu yang banyak dan jabatan yang tinggi. Padahal semua itu tidak bisa membuat hati kita tenang. Karena Allah Ta'ala berfirman bahwa satu-satunya jalan yang bisa membuat hati tenang adalah dengan mengingat Allah Ta'ala. Surat Ar Ra' (13) : 28 28. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram. Akan tetapi tidaklah mungkin kita bisa mengingat Allah Ta'ala jika kita sendiri tidak mengenal-Nya. Oleh sebab itu terlebih dahulu kita harus mengenal Allah Ta'ala dengan sebenar-benarnya, baru kita bisa mengingatnya dalam setiap saat, setiap waktu dan setiap kondisi. A. Sisi Tafakkurnya Pertama, sejauh mana kita bisa menyiapkan diri kita untuk menerima amanah dari Allah Ta’ala serta zuhud terhadap dunia?. Kedua, didalam menerima rizki dari Allah Ta’ala, apakah kita sudah merasa lebih atau masih selalu merasa kurang? Keempat, apakah kita merasa aman dengan rizki yang Allah berikan (bersandar dengan rizki) atau merasa aman beserta Allah Ta’ala? B. Contoh Do’a Dari Sisi Keimanan Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang bersyukur atas pemberian-Mu berupa rizki yang Engkau berikan kepada kami. C. Sikap Orang beriman Orang-orang yang beriman sangat yakin bahwa rizki yang dia terima datangnya dari Allah Ta'ala, bukan hasil usahanya sendiri atau kemampuannya sendiri. Dan dia juga yakin seberapapun yang diberikan Allah Ta'ala, itulah batas kemampuannya dan pasti yang terbaik. Karena Allah Ta'ala tidak akan membebani diluar kesanggupan hamba-Nya didalam menerimanya. D. Sikap Orang Bertaqwa Orang-orang yang bertaqwa akan mengelola dengan benar berapapun rizki yang telah Allah Ta'ala berikan kepadanya, sesuai dengan syareat yang telah ditentukan oleh Allah Ta'ala dan RasulNya. Yaitu dia gunakan untuk melakukan amal-amal sholeh, baik itu rizki berupa harta, ilmu atau tenaga. Dan apabila Allah Ta’ala belum memberikan rizki kepadanya, maka dia akan bersabar. Dan apabila Allah Ta'ala memberinya lebih dia tidak sombong dan apabila dia diberi kurang tidak iri dengki. Karena apapun yang diberikan Allah Ta'ala inilah yang paling sesuai dengan kesanggupannya. Yang paling penting bagaimana dia bisa mengelolanya dengan benar sehingga bisa menjadi amal diakhirat. Akan tetapi bagi orang-orang fasik dia selalu minta diberi rizki yang banyak. Padahal rizki yang banyak apabila tidak bisa mengelola dengan benar akan menjerumuskannya masuk kedalam neraka. E. Contoh Do’a Dari Sisi Ketaqwaan Dan tolonglah kami ya Allah, agar kami tidak merasakan bahwa rizki yang kami terima tersebut adalah dari kemampuan diri kami sendiri. Karena sesungguhnya segala sesuatu yang kami terima adalah datang dari-Mu. F. Sikap Orang Bertawakkal Orang-orang yang bertawakkal apabila dia telah berusaha dengan niat dan syareat yang benar, maka masalah hasilnya dia serahkan sepenuhnya kepada Allah Ta'ala. Begitupun juga apabila dia telah mengelola rizki yang Allah Ta'ala berikan dengan benar, maka masalah hasilnya dia serahkan kepada Allah Ta'ala. Apakah Allah Ta'ala akan menambah pemberian-Nya atau justru akan menguranginya. G. Sikap Orang Mukhlis Dia akan menerima dengan ikhlas dan senang seberapapun rizki yang diberikan Allah Ta'ala kepadanya. Apabila Allah Ta'ala memberikan kurang, dia terima dengan ikhlas dan bersyukur. Karena tanggung jawabnya lebih ringan diakhirat kelak. Dan apabila Allah Ta'ala memberikan lebih, dia juga bersyukur karena bisa beramal dengan yang lebih banyak lagi. H. Sikap orang-orang yang telah meneladani Asma’ Ar Rozzaq Apabila ia telah menjadi kholifah, maka ia akan dijadikan oleh Allah Ta’ala sebagai perantara-Nya didalam memberikan rizki kepada orang lain. Dan rizki tersebut bisa berupa ilmu, harta atau tenaga. Orang tersebut sangat meyakini apabila ia telah sanggup untuk menerima dan menyampaikannya kepada yang berhak menerima, maka Allah akan memberikannya. Dan ketika ia belum siap, maka Allah Ta'ala belum memberikan. Sehingga dengan keyakinan semacam ini, ia tidak akan bergantung kepada manusia. Ia tidak pernah merasa khawatir dengan semua pemberian-pemberian Allah Ta’ala dan ia tidak pernah merasa kurang dengan pemberian-pemberian Allah Ta’ala. Dan ketika Allah menjadikannya sebagai perantara-Nya didalam menyampaikan rizki, maka sedikitpun ia tidak merasa memiliki dan sombong. Karena ia sadar bahwa dirinya hanya sebatas perantara Allah Ta'ala saja. I. Contoh do’a bagi yang ingin meneladani Asma’ Ar Rozzaq Ya Allah, jadikanlah kami perantara-perantaraMu didalam memberikan rizki kepada manusia, agar mereka dapat melihat kemurahan-Mu kepada mereka.